Para tokoh:
Petrusia Denias = anak IPA kelas 3 SMA yang tersingkir sejak masuk ke SMA Santo Petrus. Penyebabnya masih belum diketahui. Tapi rata-rata anak-anak SMA Santo Petrus iri karena banyak guru yang pilih kasih padanya.
Biasa dipanggil Peddy. Mengidolakan Arianto Herry, calon pemenang LA Light Music Concert. Peddy punya suara yang lebih bagus dari Rio(Arianto Herry).
Gabriel Santosa = musisi jalanan sekaligus ketua grup musisi jalanan Violin Garden. Disebut Violin Garden karena alat musik yang dominan digunakan adalah biola. Pemain biola dengan bakat alami bukan karena kursus. Selain biola, gitar klasik dan bernyanyi juga dikuasainya dengan sangat baik.
Biasa dipanggil Gabby.
Arianto Herry = calon pemenang LA Light Music Concert. Ketua grup musik The Star of The Star yang mulai menembus Final Regional LA Light Music Concert.
Biasa dipanggil Rio. Rio punya sikap yang terlalu sombong. Diam-diam Rio mengincar harta Debby Febrina yang sudah jadian dengannya. Rio jadian dengan Debby hanya untuk mengincar hartanya saja.
Bella, Juny, Febrine, Audy, Alisa, Neni, Paula = pemain biola sekaligus vokalis di grup musik Violin Garden. Dulunya mereka bertujuh adalah guru musik di Music School Yamaha di Tasik. Karena terjadi gempa di sana, yang bisa mereka selamatkan hanya biola mereka. Sehingga mereka mencari nafkah lewat mengamen.
Chris & Alvin = gitaris sekaligus baking vokal di grup music Violin Garden. Mereka telah hidup selama 16 tahun di panti asuhan dan diusir ketika umur mereka 16 tahun karena dirasa cukup umur untuk mencari kerja. Chris dan Alvin sempat menjadi guru gitar klasik di suatu sekolah tapi gaji mereka sangat-sangat buruk sehingga mereka memutuskan untuk manggung dari kafe ke kafe hingga berakhir di pinggiran-pinggiran toko.
Bayu & Abey = pemain tifa dari Papua yang mengungsi ke Bandung karena terjadi perang dan pemberontakan besar-besaran antara Papua Nugini, Timor Leste dan Papua. Bayu dan Abey berusaha mencari kerja di Bandung hingga akhirnya berakhir sebagai pemain tifa jalanan.
Surya = satu-satunya vokalis cowo di grup musik Violin Garden. Asal-usulnya tidak diketahui karena Surya lupa ingatan. Menurut dugaan, Surya terpisah dari orang tuanya sejak usianya 2 tahun sehingga tidak bisa mengingat apa-apa.
Dialog:
HARI JUMAT, JAM 2 LEWAT 15 MENIT. ANAK-ANAK SMA ST. PETRUS MULAI MENGEMAS BUKU-BUKU DI LOKER MEREKA UNTUK DIBAWA PULANG. PEDDY YANG SEDANG MEMBE-RESKAN BUKU-BUKUNYA TERGANGGU OLEH SUARA KERIBUTAN PARA GADIS YANG RIBUT MEMINTA TANDA TANGAN RIO YANG SEDANG MEMBERESKAN BUKU-BUKUNYA DI LOKERNYA YANG BERJARAK 7 LOKER DARI LOKER PEDDY. PEDDY MEMPERHATIKAN RIO DARI JAUH.
Peddy :”Coba aja, kalo gue bisa minta tanda tangannya sekali aja, pasti seneng bukan main gue. Tapi jangan berharap Peddy! Lo orang tersingkir. Dan orang kayak Rio yang sombong minta ampun ngga mungkin melirik 1 mili meter pun ke arah gue. Buang jauh-jauh pikiran itu, Peddy! Dan lanjutkan membereskan buku!” (sambil membereskan buku)
Para Cewe: (berlari ke arah Rio)”Rio minta tanda tangannya dong!!!”
Rio :”Sabar, nona-nona! Rio Si Ganteng pasti menggoreskan tanda tangannya di atas note book kalian.”
Peddy : (menampar pipinya sendiri)”Peddy! Peddy! Peddy! Ayo! Pasti lo bisa minta tanda tangan-nya. Cowo kok penakut…(menampar pipinya lagi) Basi!” (Peddy berjalan ke arah Rio sambil membawa notebooknya dan tasnya) “Permisi! Minta tanda tangannya dong!”
Rio : (melirik ke kanan dan ke kiri pura-pura tidak melihat Peddy)”Suara siapa, ya? Ada suara, ngga ada orang.”
Para Cewe: (menertawakan Peddy)
Peddy : (memperhatikan tingkah para cewe dan Rio dengan kesal)”Permisi! Gue di sini!”(sedikit tegas)
Rio : (melirik ke arah Peddy)”Oh, ternyata lo… Peddy si rambut jamur…”(sambil mendorong kepala Peddy sampai kacamata Peddy miring ke kanan)
Peddy : (menggertak)”Gue bukan nyari keributan di sini. Tapi tanda tangan. Jangan lo pikir gue fans lo sehingga gue bisa bertekuk lutut di hadapan lo dan lo bisa seenaknya gitu ke gue!”
Rio : (menatap Peddy dengan wajah merah karena menahan tawa)”Oh… Oh… Oh… Gue terkesan banget! Ternyata lo bisa-bisanya nyari mati di depan gue, Peddy!”(sambil tersenyum meremehkan)
Para Cewe: (menertawai dan meledek Peddy dengan lantang dan menusuk)
Peddy : “Wah… Wah… Ternyata calon pemenang LA Light Music Concert belagu juga, ya?”
Para Cewe: (berhenti tertawa)
Rio : (menatap Peddy dengan tatapan mengancam)
Peddy : (menatap mata Rio dengan tatapan meremehkan)”Apa lo liat-liat? SBY belom jadi fans lo aja, lo udah belagu kayak gini… Gimana kalo SBY udah jadi fans lo. Kebayang tuh belagunya segimana?”(sindir Peddy dengan santai)
Rio : (mencengkram kerah seragam Peddy dan menabrakkan Peddy ke lokernya dengan keras)”Eh kalo ngomong dijaga, ya!”
Peddy : (tersenyum sinis)”Huh! Ternyata lo cepet panas juga, ya… Kok pemadam apinya belom keluar air, sih?”(sambil menatap pemadam api di langit-langit tepat di atas kepalanya)
Rio : (menabrakan Peddy ke lokernya lebih keras)”Eh, lo pikir lo siapa? Orang tersingkir ngga bermodal kayak lo bisa-bisanya ya ngelabrak gue…”
Peddy : (menatap Rio dengan santai)”Tentunya modal keberanian. Dari pada lo. Mau tonjok muka gue aja ngga berani. Takut ketahuan guru?”
Rio :“Bulshit! Gue peringatin sekali lagi, ya. Jaga mulut lo!”
Peddy :”Huh! Buat apa dijaga kalo lo sendiri ngga bisa menggigit lidah lo biar ngga bisa ngomong. Terutama ngomong yang me-nu-suk sangat ta-jam.”(Peddy tersenyum puas)
Rio : (diam dan menatap Peddy dengan wajah marah)”Oke! Lo mau minta tanda tangan? (melepaskan cengkramannya) Gue kasih sepuas lo!”
Peddy : (mengambil notebook dan tasnya yang jatoh)”Rasanya immposible. Sangatlah ngga penting minta tanda tangan dari lo. Calon pemenang yang be-la-gu. Jadi, sampe ketemu besok. Dadah!” (melambaikan tangan sambil pergi menjauh)
Rio :”Lo pergi, rahasia lo gue bongkar.”
Peddy : (berhenti berjalan)”Emang lo tahu apa tentang gue?”
Rio :”Debby? Tentu aja gue tahu semuanya tentang lo dan Debby.”
Peddy : (berbalik)”Oh, gitu! Lo juga, Ri! Lo jadian sama Debby cuma gara-gara
gengsi, kan? Ya, iyalah cowo mantan pemenang LA Light Music Concert Nasional masa ngga punya cewe kayak Debby? Harga diri lo ditaro di piring, ya?”
Rio :“Lo suka sama Debby, kan? Sulit dipercaya kalo cowo ngga bermodal apa-apa kayak lo berani mengejar Debby? Haha! What’s an icon, Dummyhead?” (ledek Rio)
Para Cewe: (tertawa terbahak-bahak sambil meledek Peddy dengan sangat lantang)
Peddy :”Apa gue terlihat mengejar Debby?(tanyanya dengan wajah tenang) Sekarang gue balik. Apakah lo terlihat udah jadian sama Debby? What’s an icon, Loser?”
Rio :”Gue bisa ngebeberin itu semua sampe ke seluruh pelosok SMA Santo Petrus ini. Bahkan sampe ke telinga Debby sendiri. Hal cetek! Cuma sekejap mata. Gimana? Gue bisa ngelakuin itu sekarang.”
Peddy :”Lo nantang karena lo takut ato gimana?(dengan ekspresi tenang yang menyimpan kegelisahan) Perasaan gue belom pernah denger ada gosip tentang kelicikan lo buat ngincer harta Debby dari mulut lo. Gue sih cuek-cuek aja lo gosipin. Sering lagi. Saat ini gue digosipin fine-fine aja. Karena gue juga bisa ngeboborin kelicikan lo, Rio.”
Rio : (diam ngga bisa berkata apa-apa lagi)”Debby emang cinta mati ke gue, tapi apa artinya cinta tanpa duit? Oke! Gue tantang lo buat mengejar jejak gue di Final Regional minggu depan. Kalo lo ngga berhasil, ya terpaksa gue boborin rahasia lo.”
Peddy :”Silahkan aja boborin! Terserah lo. Lagian gue juga udah gigit ekor lo tempat lo menyimpan rahasia terbesar lo. So, you’ve been wasted my time very much. I’m off now. Good bye!” (melenggang pergi)
Rio :”Lo takut ato gimana? Masa cuma ngejar jejak gue aja, lo ngga berani?”
Peddy :”Pendaftarannya kan udah ditutup. Otomatis peluang buat gue udah ketutup.”
Rio :”Om gue yang meggang pendaftarannya. Jadi, gimana sekarang? Lo terima?”
Peddy : (diam di tempat)”Gue terima! Liat aja nanti!”
Minggu, 25 Oktober 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
