Minggu, 25 Oktober 2009

Violin Garden-From Zero to Hero

Para tokoh:
Petrusia Denias = anak IPA kelas 3 SMA yang tersingkir sejak masuk ke SMA Santo Petrus. Penyebabnya masih belum diketahui. Tapi rata-rata anak-anak SMA Santo Petrus iri karena banyak guru yang pilih kasih padanya.
Biasa dipanggil Peddy. Mengidolakan Arianto Herry, calon pemenang LA Light Music Concert. Peddy punya suara yang lebih bagus dari Rio(Arianto Herry).

Gabriel Santosa = musisi jalanan sekaligus ketua grup musisi jalanan Violin Garden. Disebut Violin Garden karena alat musik yang dominan digunakan adalah biola. Pemain biola dengan bakat alami bukan karena kursus. Selain biola, gitar klasik dan bernyanyi juga dikuasainya dengan sangat baik.
Biasa dipanggil Gabby.

Arianto Herry = calon pemenang LA Light Music Concert. Ketua grup musik The Star of The Star yang mulai menembus Final Regional LA Light Music Concert.
Biasa dipanggil Rio. Rio punya sikap yang terlalu sombong. Diam-diam Rio mengincar harta Debby Febrina yang sudah jadian dengannya. Rio jadian dengan Debby hanya untuk mengincar hartanya saja.

Bella, Juny, Febrine, Audy, Alisa, Neni, Paula = pemain biola sekaligus vokalis di grup musik Violin Garden. Dulunya mereka bertujuh adalah guru musik di Music School Yamaha di Tasik. Karena terjadi gempa di sana, yang bisa mereka selamatkan hanya biola mereka. Sehingga mereka mencari nafkah lewat mengamen.

Chris & Alvin = gitaris sekaligus baking vokal di grup music Violin Garden. Mereka telah hidup selama 16 tahun di panti asuhan dan diusir ketika umur mereka 16 tahun karena dirasa cukup umur untuk mencari kerja. Chris dan Alvin sempat menjadi guru gitar klasik di suatu sekolah tapi gaji mereka sangat-sangat buruk sehingga mereka memutuskan untuk manggung dari kafe ke kafe hingga berakhir di pinggiran-pinggiran toko.

Bayu & Abey = pemain tifa dari Papua yang mengungsi ke Bandung karena terjadi perang dan pemberontakan besar-besaran antara Papua Nugini, Timor Leste dan Papua. Bayu dan Abey berusaha mencari kerja di Bandung hingga akhirnya berakhir sebagai pemain tifa jalanan.

Surya = satu-satunya vokalis cowo di grup musik Violin Garden. Asal-usulnya tidak diketahui karena Surya lupa ingatan. Menurut dugaan, Surya terpisah dari orang tuanya sejak usianya 2 tahun sehingga tidak bisa mengingat apa-apa.

Dialog:
HARI JUMAT, JAM 2 LEWAT 15 MENIT. ANAK-ANAK SMA ST. PETRUS MULAI MENGEMAS BUKU-BUKU DI LOKER MEREKA UNTUK DIBAWA PULANG. PEDDY YANG SEDANG MEMBE-RESKAN BUKU-BUKUNYA TERGANGGU OLEH SUARA KERIBUTAN PARA GADIS YANG RIBUT MEMINTA TANDA TANGAN RIO YANG SEDANG MEMBERESKAN BUKU-BUKUNYA DI LOKERNYA YANG BERJARAK 7 LOKER DARI LOKER PEDDY. PEDDY MEMPERHATIKAN RIO DARI JAUH.

Peddy :”Coba aja, kalo gue bisa minta tanda tangannya sekali aja, pasti seneng bukan main gue. Tapi jangan berharap Peddy! Lo orang tersingkir. Dan orang kayak Rio yang sombong minta ampun ngga mungkin melirik 1 mili meter pun ke arah gue. Buang jauh-jauh pikiran itu, Peddy! Dan lanjutkan membereskan buku!” (sambil membereskan buku)

Para Cewe: (berlari ke arah Rio)”Rio minta tanda tangannya dong!!!”

Rio :”Sabar, nona-nona! Rio Si Ganteng pasti menggoreskan tanda tangannya di atas note book kalian.”

Peddy : (menampar pipinya sendiri)”Peddy! Peddy! Peddy! Ayo! Pasti lo bisa minta tanda tangan-nya. Cowo kok penakut…(menampar pipinya lagi) Basi!” (Peddy berjalan ke arah Rio sambil membawa notebooknya dan tasnya) “Permisi! Minta tanda tangannya dong!”

Rio : (melirik ke kanan dan ke kiri pura-pura tidak melihat Peddy)”Suara siapa, ya? Ada suara, ngga ada orang.”

Para Cewe: (menertawakan Peddy)

Peddy : (memperhatikan tingkah para cewe dan Rio dengan kesal)”Permisi! Gue di sini!”(sedikit tegas)

Rio : (melirik ke arah Peddy)”Oh, ternyata lo… Peddy si rambut jamur…”(sambil mendorong kepala Peddy sampai kacamata Peddy miring ke kanan)

Peddy : (menggertak)”Gue bukan nyari keributan di sini. Tapi tanda tangan. Jangan lo pikir gue fans lo sehingga gue bisa bertekuk lutut di hadapan lo dan lo bisa seenaknya gitu ke gue!”

Rio : (menatap Peddy dengan wajah merah karena menahan tawa)”Oh… Oh… Oh… Gue terkesan banget! Ternyata lo bisa-bisanya nyari mati di depan gue, Peddy!”(sambil tersenyum meremehkan)

Para Cewe: (menertawai dan meledek Peddy dengan lantang dan menusuk)

Peddy : “Wah… Wah… Ternyata calon pemenang LA Light Music Concert belagu juga, ya?”
Para Cewe: (berhenti tertawa)

Rio : (menatap Peddy dengan tatapan mengancam)

Peddy : (menatap mata Rio dengan tatapan meremehkan)”Apa lo liat-liat? SBY belom jadi fans lo aja, lo udah belagu kayak gini… Gimana kalo SBY udah jadi fans lo. Kebayang tuh belagunya segimana?”(sindir Peddy dengan santai)

Rio : (mencengkram kerah seragam Peddy dan menabrakkan Peddy ke lokernya dengan keras)”Eh kalo ngomong dijaga, ya!”

Peddy : (tersenyum sinis)”Huh! Ternyata lo cepet panas juga, ya… Kok pemadam apinya belom keluar air, sih?”(sambil menatap pemadam api di langit-langit tepat di atas kepalanya)

Rio : (menabrakan Peddy ke lokernya lebih keras)”Eh, lo pikir lo siapa? Orang tersingkir ngga bermodal kayak lo bisa-bisanya ya ngelabrak gue…”

Peddy : (menatap Rio dengan santai)”Tentunya modal keberanian. Dari pada lo. Mau tonjok muka gue aja ngga berani. Takut ketahuan guru?”

Rio :“Bulshit! Gue peringatin sekali lagi, ya. Jaga mulut lo!”

Peddy :”Huh! Buat apa dijaga kalo lo sendiri ngga bisa menggigit lidah lo biar ngga bisa ngomong. Terutama ngomong yang me-nu-suk sangat ta-jam.”(Peddy tersenyum puas)

Rio : (diam dan menatap Peddy dengan wajah marah)”Oke! Lo mau minta tanda tangan? (melepaskan cengkramannya) Gue kasih sepuas lo!”

Peddy : (mengambil notebook dan tasnya yang jatoh)”Rasanya immposible. Sangatlah ngga penting minta tanda tangan dari lo. Calon pemenang yang be-la-gu. Jadi, sampe ketemu besok. Dadah!” (melambaikan tangan sambil pergi menjauh)

Rio :”Lo pergi, rahasia lo gue bongkar.”

Peddy : (berhenti berjalan)”Emang lo tahu apa tentang gue?”

Rio :”Debby? Tentu aja gue tahu semuanya tentang lo dan Debby.”

Peddy : (berbalik)”Oh, gitu! Lo juga, Ri! Lo jadian sama Debby cuma gara-gara
gengsi, kan? Ya, iyalah cowo mantan pemenang LA Light Music Concert Nasional masa ngga punya cewe kayak Debby? Harga diri lo ditaro di piring, ya?”

Rio :“Lo suka sama Debby, kan? Sulit dipercaya kalo cowo ngga bermodal apa-apa kayak lo berani mengejar Debby? Haha! What’s an icon, Dummyhead?” (ledek Rio)

Para Cewe: (tertawa terbahak-bahak sambil meledek Peddy dengan sangat lantang)

Peddy :”Apa gue terlihat mengejar Debby?(tanyanya dengan wajah tenang) Sekarang gue balik. Apakah lo terlihat udah jadian sama Debby? What’s an icon, Loser?”

Rio :”Gue bisa ngebeberin itu semua sampe ke seluruh pelosok SMA Santo Petrus ini. Bahkan sampe ke telinga Debby sendiri. Hal cetek! Cuma sekejap mata. Gimana? Gue bisa ngelakuin itu sekarang.”

Peddy :”Lo nantang karena lo takut ato gimana?(dengan ekspresi tenang yang menyimpan kegelisahan) Perasaan gue belom pernah denger ada gosip tentang kelicikan lo buat ngincer harta Debby dari mulut lo. Gue sih cuek-cuek aja lo gosipin. Sering lagi. Saat ini gue digosipin fine-fine aja. Karena gue juga bisa ngeboborin kelicikan lo, Rio.”

Rio : (diam ngga bisa berkata apa-apa lagi)”Debby emang cinta mati ke gue, tapi apa artinya cinta tanpa duit? Oke! Gue tantang lo buat mengejar jejak gue di Final Regional minggu depan. Kalo lo ngga berhasil, ya terpaksa gue boborin rahasia lo.”

Peddy :”Silahkan aja boborin! Terserah lo. Lagian gue juga udah gigit ekor lo tempat lo menyimpan rahasia terbesar lo. So, you’ve been wasted my time very much. I’m off now. Good bye!” (melenggang pergi)

Rio :”Lo takut ato gimana? Masa cuma ngejar jejak gue aja, lo ngga berani?”

Peddy :”Pendaftarannya kan udah ditutup. Otomatis peluang buat gue udah ketutup.”

Rio :”Om gue yang meggang pendaftarannya. Jadi, gimana sekarang? Lo terima?”

Peddy : (diam di tempat)”Gue terima! Liat aja nanti!”

Sabtu, 19 September 2009

Love BG!(Story Inspiration-3)



cover belakang



yang udah diedit(di bawah)


(bagus mana ya? yang di atas? ato yang di bawah?)




mohon komentarnya mana yang bagus ya! Trim's
_____________________________________________________________________________________
Aku Rana Juwita Dwimanegara. 3 hari yang lalu atau tepatnya 30 Desember, aku genap berusia 17 tahun. Pastinya semua orang seusiaku bakal merasa bahagia di umurnya yang udah menginjak usia 17 tahun. Pesta-pesta bareng temen-temennya. Banjur-banjur Sureprize! Nge-date sama first love-nya. Sweetseventeennan. Pokoknya yang berbau kehebohan dan kesenangan. Tapi itu semua ngga berlaku bagiku.

“Putri, kita sudah sampai,” seru Jose.
“Oh, udah. AH! UDAH SAMPE? YO YO TURUN!!!” sentakku kaget. Jonathan Sen Yu, BG-ku(Body Guard-ku. Sebutan yang biasa kupakai) bergegas keluar dari mobil dan membukakan pintu buatku. Aku yang ada di jok belakang pastinya lebih cepat membuka pintu daripada Jose(singkatan diambil dari Jonathan Sen Yu). Jadi aku membuka pintu duluan sebelum jari-jemari Jose yang panjang bergerak menyentuh gagang pintu mobil.

“Putri, biar saya saja yang buka pintunya. Putri tinggal turun saja,” gerutu Jose melihatku membuka pintu mobil sebesar sudut 400. Jose menahan pintu terbuka terlalu lebar sebelum aku menongolkan kepalaku keluar.
“Iihh!!! Biarin! Rana kan udah gede. Udah mandiri!” gerutuku.
“Putri, nanti kalau ada apa-apa, saya yang dimarahi. Makanya Putri jangan keluar sebelum saya keluar!”
“Toh, ini sekolah. Bukan lapangan militer yang banyak adu tembaknya kayak di TV-TV. Jadi Rana bakal aman-aman aja, tuh. Udah deh! Jose ngga usah terlalu protek banget ke Rana! Malu tau ihh!!!” gerutuku. Aku mendorong pintu mobil hingga terbuka lebar dan keluar dari mobil. Aku membanting pintu sampe bikin Jose kalang-kabut. Aku sengaja jalan lebih cepet dari biasanya buat menjaga jarak dari Jose yang selalu membuntutiku.

30 Desember 2009, 3 hari yang lalu, bener-bener sweetseventeenan yang ancur abis buatku. Aku diperbolehkan heboh-hebohan bareng temen-temenku. Tapi temen-temen anak dari temen-temen papah! Karena papah pejabat DPR, maka anaknya temen-temen papah juga formal abis. Buset dah! Masih mending formal. Ini ada yang culun abis jugaa!!! Anak-anak cowo semua lagi! Dan ngeceng aku lagi! TIDAAAKKK!!!!! Makanya selama pesta, aku nempel Jose terus. Emang sih, Jose tuh seorang BG yang mesti formal dan on time setiap saat. Tapi setidaknya dia cool donk!!! Ngga cupu. Meski waktu di pesta dia pake jas hitam dengan daleman kaos hitam bertulisan “I Luph You Pull! Linkin Park!” dan bergambar grup band Linkin Park dengan baground Transformers 2 orang-orang menganggapnya aneh, tapi dia tetep keliatan cool dibandingkan dengan orang-orang formil yang ada di pesta 3 hari yang lalu.

Jose memang BG yang lumayan OK daripada BG-BG suruhan papah yang serba formil dan kaku kayak robot. Jose lebih tua 5 tahun dariku(23 tahun). Tapi wajah SMA-nya yang masih nempel kuat di wajahnya udah bikin banyak orang ketipu dan menganggapnya masih 17 tahunan gitu. Di hari-hari biasa, dia tidak pernah lepas dari seragam BG-nya yang udah ditetapkan papah dari awal dia bekerja. Tapi di hari-hari lainnya seperti weekend, hari-hari libur, dll, Jose selalu pake jas hitam dengan daleman kaos bergambar Linkin Park(Grup Band favoritnya), Transformers 2, Jason Mraz, atau kaos-kaos lainnya dengan gambar yang ia lukis sendiri(jago lukis juga lho! Ya iyalah! Da papahnya seniman!). “BG sih BG. Tapi dandanan mesti own style donkz!” motto Jose.

Setiap kali aku lewat di depan kelas, pastinya anak-anak cewe langsung tergila-gila sama Jose. BG-BG juga banyak yang ngeceng lho. Makanya aku tuh malu kalo dibuntutin Jose mulu. Malu sama do’i-ku Andriano Stefano yang selalu nganggep aku ngegebet Jose yang sebenernya ngga ada hubungan apa-apa denganku. Tapi, meski Jose udah tau kalo Andre(Andrian Stefano) pacarku, kalo ada papah pastinya Jose langsung negur kemesraan kita. Kalo ngga ada papah, Jose fine-fine aja melihat kemesraan kita. Kadang-kadang, kalo aku lagi break dengan Andre, melihat wajah Jose yang polos, aku agak-agak merah juga(muka merah maksudku).

Akhir-akhir ini, Andre merasa tersisih oleh kehadiran Jose. Ia merasa kalo dia ngga pantes berada di sebelahku. Ia merasa kalo ia ngga mampu melindungi aku(dia ngga pernah punya nyali buat ikutan aikido gara-gara pernah dilabrak kakak kelas waktu kelas 6 SD di ruang aikido). “Eh, berani kamu ganggu Putri! Saya kasih duit kamu 3 juta.” Itu yang selalu diucapin Jose kalo ada yang gangguin aku. Tapi bukannya dikasih lho! Diporotan 3 juta malahan(digebukin sampe dirawat di rumah sakit dengan biaya mencapai 3 juta!).

Jose mengantarku sampai di depan kelas. Aku langsung menaruh tasku di meja paling denpan barisan 3. Letak strategis buat menyerap pelajaran secara maksimum. Waktu aku mau menarik kursi, Jose langsung lari ke arah kursiku dan menarikkan kursi itu buatku. Sorakan “Cie!!!” langsung menghujaniku dan Jose dari anak-anak cewe dan cowo di kelasku. Aku dan Jose langsung merah dan menjaga jarak.

“Ih! Jose ngapain sih kesini! Jadi malu tau!” bentakku.
“Order! A… Saya Body Guard Putri, kan? J… jadi saya…”
“Udah deh! Jose balik ajah!!!” bentakku sambil mendorong Jose keluar kelas.
“Woi! Si Andre dikemanain? Dianggurin gara-gara Bodyguard lo lebih cool?” teriak Cliff-anak terjahil dan ternyebelin sejagat raya- disertai hujan sorak dan tawa dari temen-temennya. Aku langsung mendorong Jose sampe ke lorong kelas hingga ngga ada lagi yang bisa ngebrondong aku dan Jose dengan sorakan “Cie!”.

“Putri, biar saya masuk!” tegas Jose.
“Ih! Jose tuh ngapain sih? Rana malu tau ih! Anak-anak udah nyorakin Rana gara-gara Jose bandel masuk kelas Rana. Argh! Sekarang hari-hari Rana kacau deh!!!” omelku. Aku menongolkan kepalaku sedikit ke dalam kelas buat ngeliat keadaan. Mata jahil Cliff langsung beradu pandang denganku. Bibirnya langsung gatal dan bersiap-siap buat ngebrondong sorakan dan tawaan lagi bersama anak-anak. “Ciiiiie....” Eits! Aku menghindar! Aku kembali menatap Jose dengan pandangan kesal. Aku berkacak pinggang dengan wajah marah dan menatap mata Jose dengan tajam.

“Putri, saya harus negur anak-anak itu. Supaya Putri ngga malu...”
“ARGHHHH!!! NO WAAAAY!!! PULANG!” bentakku. Jose hanya diam di tempat melihat wajahku yang merah abis. Waaghhh!!! Makin kesel ngeliatnya yang ngga pergi-pergi. “PULANG! PULANG CEPEEET!!!” sentakku sambil mendorongnya sampe ke depan tangga di ujung lorong kelas. Aku ngga mendorongnya lagi. Aku langsung kembali ke kelas buat mengecek keadaan. Sorakan Cliff yang berlebihan masih siap membrondongiku setiap aku mengecek kelas.Kesel!!! Aku berhenti sejenak di belakang pintu kelas sambil menenangkan diri. Aku terus mempertimbang-kan banyak keputusan.

“Eeh! Kita bilangin ke si Andre yuk! Si Putri DPR kita yang bernama Rana Juwita Dwimanegara habis ngegebet Body Guard-nya! Haaahhhahhh!!!!” gumam Cliff dan temen-temennya disertai tawa dari temen-temen sekelas. Kupingku makin panas! Rasanya pengen meremas-remas kepala dan bibirnya yang loba bacooot!!! Aku membanting pintu keras-keras hingga membuat keributan seribut-ributnya. Cliff dan temen-temennya langsung sunyi senyap. Aku berjalan ke dalam kelas dan menganbil tasku. Aku menatap tajam mata Cliff dan menudingkan jari telunjukku buat mengancam. Aku keluar dari kelas dan berjalan ke arah Jose lalu melemparkan tasku ke arahnya.

“Ayo pulang! Daripada hari-hari Rana tekanan batin mulu,” omelku. Aku berjalan menggusur lengan bajunya dengan kesel. Jose hanya menurut sambil menatapku iba. Aku udah ngga peduli lagi dengan tatapannya itu. Aku terus berjalan sampai halaman depan sekolah. Aku berhenti menggusur Jose di sini dan membiarkannya jalan sendiri di belakangku. Jose menurut-menurut aja. Seperti lembu dicucuk hidungnya. Untungnya Pak Bayu(driver-ku, bahasa kasarnya sopirku) masih parkir di depan halaman sekolah. Aku langsung bergegas masuk ke dalam mobil dengan wajah kesel.

“Waduh, Putri kenapa lagi nih?” tanya Pak Bayu dengan logat yang kocak.
“Hari-hari Rana kacau, Pak! Karena Rana putri DPR, satu-satunya putri pejabat DPR se-Indonesia di sekolah ini, ada gosip sedikit aja tentang Rana, pastinya langsung nyebar ke seluruh anak-anak di sekolah. Apalagi sekarang digosipin ngegebet Jose. Mo ngomong apa coba Rana di depan Andre?” omelku.

“Yah, tapi kan Andre tuh orangnya baik, Putri. Jadi belum tentu Andre berprasangka buruk sama Putri. Lagian Putri sama Andre udah pacaran selama 6 sampe 7 bulanan. Jadi, masa cuma gara-gara gosip hubungan Putri sama Andre jadi rusak?”

Aku diam ngga menjawab. Aku hampir mau menangis gara-gara Cliff!!! Cliff sialan! Soalnya dia kalo ngegosip, bisa dibumbuin 4 kali lipat dari kenyataannya. Jadi meskipun cuma gosip, Andre bisa langsung sakit hati sama kepalsuan-kepalsuannya yang ngga masuk akal itu. Bisa aja si Cliff ngegosip kalo aku udah ngga cinta lagi sama Andre. Atau aku pernah ditembak Jose yang jelas-jelas lebih cool dari Andre yang cute n peace abis. Padahal gosip sama kenyataan beda jauh.

Jose akhirnya sampe juga di depan mobil. Jose membuka pintu jok depan dengan pelan-pelan. Ia duduk dengan sedikit gelisah dan menghindari tatapan mataku yang tajam dari cermin.
“Putri, saya...”
“Ihh!!! Apa-apaan sih lo!!! Berani-beraninya gangguin hidup orang! Andre bisa mutusin Rana secepetnya tau!!!” omelku sambil memukulinya dengan bantal jok mobil.
“Putri, Putri! Saya kan mo minta maaf.... Putri dengerin saya dulu!!!”
“NO WAAAAY!!!”
“Waduh, kayaknya ada Cinta Terlarang nih!” potong Pak Bayu sambil menatap kaset lagu The Virgin. Aku dan Jose berhenti bertengkar. Aku dan Jose dan Pak Bayu saling bertatapan mata dengan tajam.

“Just Zeep it!!!” seruku dan Jose bersamaan. Aku kembali duduk di jok belakang dan Jose di jok depan. Aku dan Jose hanya berpandang-pandangan dari kaca sepion. Aku menatapnya dengan tatapan kesel. Jose menatapku dengan tatapan menyesal. Pak Bayu melihat ke arah Jose yang wajahnya agak-agak merah dengan senyumannya yang selalu punya arti tersembunyi.

“Oke, saya antar Putri ke rumah ya!” seru Pak Bayu. Aku memalingkan muka dan memutar bola mataku. Jose berhenti menatapi mataku dari kaca sepion. Ia memilih untuk melihat-lihat jalanan yang ramai dilalui mobil-mobil pengantar siswa. Pak Bayu menjalankan mobil dan melesat di jalanan yang mulai sepi.


“Kenapa Rana pulang? Kalian saya andalkan untuk memastikan Rana sampai di sekolah dan dapat sekolah. Rana harus sekolah mau tidak mau. Kalau hanya urusan teman-teman yang kurang dapat bersosialisasi, memangnya ke sekolah buat berteman? Ke sekolah buat belajar. Apa gunanya teman kalau nilai Rana jelek? Teman hanya menyesatkan untuk menomorduakan pelajaran,” ceramah papah. Pak Bayu dan Jose tampak mendengarkan dengan seksama apa yang dicera-mahin papah. Tapi kalo aku liat dari mata Pak Bayu, kayaknya Pak Bayu cuma asal ngedengerin aja. Mata Jose malah berekspresi menyesal banget. Beuh! Cuma gara-gara narikin bangku buat aku aja nyeselnya udah segitunya. Bagus sih dia nyesel. Tapi aku nggak bakalan maafin dia sebelum gosip di sekolah tentang aku dan Jose lenyap.

“Rana!”
“Eng! Iya, Pah!”
“Kamu papah hukum bersama Pak Bayu dan Jose selama 12 jam.”
“Apa? Nggak bisa gitu dong, Pah! Toh, harusnya yang dihukum temen-temen Rana yang nggak bisa bikin suatu kenyamanan pada diri Rana. Terutama Cliff yang suka...”
“Omong kosong, Rana! Sekarang, kamu papah hukum buat menggantikan tugas Bi Yanti, Bi Susan, dan Bi Dana dan tidak boleh ada seorangpun yang membantu kamu. Selama 12 jam,” perintah papah. Aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Keputusan papah ngga pernah bisa dilanggar oleh siapapun termasuk aku, putrinya sendiri.
“Jose!”
“Iya, Pak!”
“Kamu saya hukum untuk menggantikan tugas Pak Sarman dan Pak Jana di kebun. Sebagai tukang potong rumput di pinggiran selokan yang berbau busuk selama 10 jam...”
“Kok, 10 jam sih? Nggak adil!” potongku.
“Kamu yang meminta untuk pulang sehingga mau tidak mau uang yang papah keluarkan terbuang percuma. Sebagai gantinya kamu harus bekerja sebanyak jam kerja papah yang digunakan untuk menghasilkan uang sekolahmu itu. 2 jam. Ekstra.”

Aku makin diam kayak tikus kejepit pintu. Aku tentunya kesel. Tapi aku nggak berani ngeromet apalagi di belakang papah. Meski udah 50 tahun, pendengaran papah masih tajam. Ingatannya juga masih luar biasa tajam. Jadi, kalo aku ngeromet di belakang papah, pastinya papah bakal menambahkan jam hukumanku.
“Pak Bayu!”
“What’s up, Pak!”
Aku, Jose dan papah kaget luar biasa. What’s up? Berani bener Pak Bayu berlagak slengean di depan papah! Aku dan Jose menatap Pak Bayu dengan tatapan terheran-heran. Pak Bayu sendiri yang tadi berlagak formal, sekarang berlagak brandal. Papah memelototi Pak Bayu yang tampak nggak takut sama papah.
“Apa tadi anda bilang? Anda pikir saya ini siapanya anda, hah?” bentak papah.
“Bos saya. Kenapa?” tanya Pak Bayu dengan cueknya.
“Tunjukan rasa hormat anda pada pimpinan anda kalau begitu. Anda saya hukum...”

Dasar Pak Bayu. Gaya slengeannya yang khas selalu aja bikin papah berubah jadi tikus kejepit pintu yang lagi diintrogasi oleh kucing-kucing hitam yang sangar. Hal inilah yang bikin aku mengidolakan Pak Bayu. Selalu santai dan slengean.

“Kamu saya hukum...”
Pak Bayu mengangkat sebelah alisnya yang mulai memutih. Waw! Ini dia gaya khas Pak Bayu yang paling aku seneng. Siapa aja bisa kalah bahan pembicaraan kalo Pak Bayu udah mengangkat sebelah alisnya kayak gitu. Ini belum ada senyumannya. Kalo udah ada senyumannya, udah deh. Skak mat!

“Hukuman cuti, Bos?”
Papah langsung melotot ke arah Pak Bayu yang mulai menyunggingkan senyuman skak mat-nya yang khas. Aku dan Jose hampir ngakak mendengarnya. Apalagi kalo mendengar kata “Bos” yang terlontar dari mulut Pak Bayu yang selalu berlagak kocak. Mendengarnya dengan lagak kocak aja udah bikin aku teringat tampang papah waktu rapat di suatu daerah dengan jas hitam seperti bos yang benar-benar memancing tawa para peserta rapat. Apalagi kalo nada bicara Pak Bayu dibuat-buat seperti meledek.

“Saya hukum kamu dengan hukuman yang sama dengan Jose. Selama 10 jam!”
Pak Bayu tersenyum penuh kemenangan.
“Tapi kalau anda berani-beraninya berlaku seperti itu lagi, saya tambahkan jam hukuman anda sebanyak 5 jam,” ancam papah.
“Siap, Bos!” seru Pak Bayu dengan nada meledek.
Tawaku langsung meledak tanpa sadar. Tawaku yang selalu ngakak abis selalu aja terde-ngar meledek oleh siapapun termasuk papah.
“SIAPA YANG SURUH RANA TERTAWA???” bentak papah.
Aku langsung kaku kayak patung. Suasana langsung hening seketika. Kuping Jose sedikit ngilu tapi Jose berusaha mempertahankan ekspresinya yang tenang.
“Nggak ada, Pah!” jawabku dengan suara kejepit.
“KALAU BEGITU JANGAN TERTAWA DAN KERJAAAA!!! SEKARANG JUGA!!!” perintah papah. Papah meninggalkan aku, Jose dan Pak Bayu dengan ekspresi kesel bukan main. Sesudah jarak antara aku dan papah sangat jauh, tawaku yang ngakak meledek meledak lagi tanpa ragu-ragu. Jose dan Pak Bayu ikut ketawa dengan penuh kemenangan.

“Buset dah! Pak Bayu emang top abiesss!!!” pujiku.
“Thank you! Thank you!”
“Sampe-sampe papah nggak bisa ngomong apa-apa lagi! Hahahaha!!! Gokil banget, Pak!!!” pujiku lagi. Kami bertiga kembali menertawai kemenangan Pak Bayu yang gemilang.
“SEKARANG JUGA! KERJA!!!” bentak papah dari kejauhan. Kami langsung beku menahan tawa. Kami menunggu beberapa saat kemudian lalu melepas tawa kami yang meledak keras memecahkan kesunyian.
“So, what we do now?” tanya Jose.
“Let’s we work this out!” seruku dan Pak Bayu menyanyikan lirik lagu HSM2 Work This Out dengan lantang.

Akhirnya aku bergegas menuju dapur untuk mengerjakan hukumanku. Pak Bayu dan Jose bergegas menuju selokan yang busuk untuk memotongi rumput-rumput di sana. Aku mengabaikan segala pikiran tentang “12 jam itu lama tau!” dari otakku. Aku kerja sambil mendengarkan musik. Jadi kalo papah tanya,”Papah bilang nggak boleh ada siapapun yang membantu kamu. Kenapa kamu membantah?” Aku jawab aja,”Kalo gitu pernyataannya diganti aja jadi ‘tidak boleh ada apapun yang ngebantuin Rana’. Kan, Ipod bukan orang. Ipod kan benda mati yang ngebantuin Rana. Jadi boleh-boleh aja dong.” Papah pasti langsung jadi tikus kejepit. Apalagi kalo Pak Bayu dan Jose ketawa cekikikan di balik jendela dapur. Papah mau ngomong apa pasti lupa.

Nggak kerasa 12 jam berlalu. Sekarang udah jam 6 sore. Kami bertiga udah selesai menger-jakan hukuman kami yang nggak penting dari papah. Buat melepas lelah yang masih menempel di badanku, Jose yang udah segeran mengambil gitar klasiknya(aku menyebutnya begitu karena Jose selalu aja memaikan petikan-petikan klasik maut kalo gitarnya udah berada di tangannya).

“Weizz! Jason Mraz beraksi!!!” seruku. Sejak Jose kuberitahu tentang lagu Jason Mraz I’m Yours, Jose terus mencari mp3 lagu-lagu Jason Mraz di toko musik. Setiap hari dia mendengarkan lagu-lagu Jason Mraz yang khas dengan petikan-petikan gitarnya yang so peaceful. Karena terobsesi, Jose yang udah punya bakat maen gitar memutuskan buat mendalami lebih dalam ilmu gitar. Sampe akhirnya, Jose dapat menguasai segala aliran gitar. Klasik, Pop, Akustik Spanyol, Rock, dan lain-lain deh. Dan yang paling Jose kuasai adalah petikan-petikan klasik ala Jason Mraz! Gila githu!!!

“Well you done done me and you bet I felt it...” Gila! Bener-bener pantas kalo disebut duplikat Jason Mraz. Keren!!! Aku dan Pak Bayu tenggelam dalam alunan musiknya yang bener-bener mirip kayak aslinya. Melihat jari-jemarinya yang panjang menari-nari di atas senar gitarnya yang berwarna merah tembaga. Terkadang aku ikut menyanyi atau tepuk tangan buat menambahkan iramanya. Pak Bayu ikutan bermain musik. Ia mengambil tifanya dan memukul-mukulnya dengan irama yang ceria. Akupun ikut bernyanyi dengan baking vokalku yang khas sopran.

Tak terasa lagupun selesai. Aku tepuk tangan semeriah mungkin karena bangga dan puas. Jose yang polos langsung merah (muka merah) karena grogi dan malu. Ia tersenyum kecil dan menyimpan gitarnya.

“Mandi, mandi! Badan udah keringetan!” serunya.
“Yap! Mo spa nih!” seruku.
“Spa apa, Putri?” tanya Pak Bayu.
“Spa air! Kan kalo mandi pake air, Pak!” jawabku.
“Lucu banget! Lucu banget!” seru Pak Bayu.


Aku selesai mandi. Aku keluar dari kamar mandi dengan badan seger tanpa bau keringet. Kamar mandiku berada di dalam kamarku. Jadi aku bebas keluar masuk kamar mandi dengan kimono. Aku memilih tangtop hitam dan celana pendek. Meski rumahku sejuk, aku suka perpenampilan terbuka karena aku bisa lebih merasakan kesejukan secara langsung dengan kulitku yang kuning langsat.

Selesai berpakaian, aku keluar kamar. Jose kayaknya rada-rada keganjel juga kalo aku belum maafin dia. So, aku berjalan keluar kamar dan menemuinya. Kayaknya Jose habis mandi juga. Jadi pastinya Jose lagi di kamarnya sekarang. Setiap kamar di rumah dilengkapi dengan kamar mandi dan ruang khusus baju di dalamnya. Tapi tetep aja ada beberapa kamar mandi di luar kamar. Jadi dalam keadaan darurat(BAB udah mau keluar!!!), kita nggak perlu lari-lari ke kamar sendiri. Cukup cari kamar mandi umum yang tersedia di luar kamar.

“Aha!” seruku.
Aku udah berada di depan pintu kamar Jose. 2 bulan yang lalu, aku pernah masuk ke kamar Jose. Kamarnya memang dilengkapi kamar mandi dan kamar khusus baju-baju. Tapi, kamar Jose sedikit lebih luas dari kamar pegawai-pegawai(mis: pembantu, sopir, dan tukang kebun) lainnya. Hal ini “dikarenakan” Jose punya banyak barang bawaan sesuai hobinya. Di kamarnya ada gitar klasik dan listrik, notebook(sejenis laptop tapi lebih kecil) lengkap dengan peralatan-peralatan pelengkap dari papah dan printer(kalem-kalem, Jose rada-rada ceriwis juga lho! Cerita yang dikarangnya lebih banyak dialog daripada rincian kejadiannya!), peralatan tinju(wah! Jagonya nih!), peralatan lukis dan gambar, dan persenjataan yang dikasih papah sejak hari pertama Jose bekerja. Aku memutar gagang pintu kamar Jose pelan-pelan. Aku masuk ke kamar Jose yang jarang dikunci itu. Aku harap Jose udah pake baju. Kalo nggak? Waduh! Gawat!

“Jose?” gumamku. Aku melihat-lihat kamar Jose buat mencarinya. Tiba-tiba seseorang muncul dari balik lemari. Itu Jose! Belum pake baju!!!


“AAAGGGHHHH!!!!” teriak Jose ketika melihatku.
“WAAAAGHHH!!!” teriakku. Aku langsung keluar kamar dan berdiri di balik pintu kamar Jose. Napasku ngos-ngosan. Jantungku berdetak kencang. Wajahku merah dan tatapanku terlihat kayak orang yang ketakutan gara-gara ngeliat hantu. “Jose???”

“Putri? A...da apa...?” tanya Jose tergagap-gagap.
“Jose, sorry! Tadi Rana nggak ke... ketok pintu dulu... Jadinya... Jose...”
“Nggak papa! Yang penting... unggas saya... nggak keliatan...! Hhaa... hha... Nggak papa!”
“Beneran?”
“Iya! Kalo gitu, s... saya pake baju d... dulu,” ujar Jose dengan suara yang masih tergagap-gagap. Suara Jose tampak hilang. Kayaknya Jose kaget bukan main pas aku buka pintu.

“O... Oke! Rana tunggu,” ujarku.
Suara Jose nggak terdengar lagi. Aku harap Jose lagi pake baju sekarang.



Inspiration from: Transporter, Prince Valiant

Kamis, 20 Agustus 2009

Am I love Him [Self heart&Music-Story Inspiration_3]

Aku ngebuat cerita ini waktu aku kelas 7. Tadinya cerita ini mau dilombain ke LCCG tanggal 11 Juli 2009. Tapi aku ngga terlalu pengalaman bikin cerpen cinta. Oh, God I like this moment. Kisah tentang 2 orang sahabat yang ditakdirkan bersama. 2 sahabat itu selalu punya kebimbangan dalam soal cinta hingga akhirnya hari mereka berdua sakit dan menderita. Ini ciri khas aku. Selalu bimbang dalam soal cinta. So, here you are... (cuma cerita kok. ngga ada hubungannya dengan kejadian nyata)


(yg sudah di-edit di bawah ini)



Sinopsis:
Margareth Pertucy anak X IPA2 yang ternyata bukan ditakdirkan dalam hal cinta oleh sekedar kebetulan biasa. Pertemuan antara cewe live art seperti dirinya dengan cowo misterius yang ramah tamah dan lemah lembut ternyata bukanlah mimpi yang lenyap ketika ia bangun. Pertemuan dan kisah cinta mereka telah ditakdirkan dalam mimpi mereka berdua. Maercy alias Margaret Pertucy bertemu dengan Vius alias Fransiskus Arvius waktu mereka berdua lagi mencari lab.Elektro waktu Ekskul. Vius yang ternyata memiliki begitu banyak persamaan dengan Maercy kini manjadi sahabatnya dan Sammy sahabat Vius sejak kelas 3 SMP.

Lama-lama persahabatan mereka bukan sekedar persahabatan belaka lagi. Hati mereka sedikit demi sedikit mulai melted. Maercy mulai semakin dekat dengan Vius karena sifatnya yang polos selalu membuat setiap orang yang ada di deketnya bahagia dan nyaman. Tapi lama-kelamaan Maercy curiga bahwa Vius nyembunyiin sesuatu di balik senyumannya yang selalu bikin dia melted. Ternyata Vius punya sebuah mimpi yang tidak pernah lepas dari hidupnya. Mimpi tentang seorang cewe yang dia yakini kalau cewe itu adalah jodohnya yang bakal berpisah untuk waktu yang cukup lama. Sejak Vius bersahabat dengan Maercy, mimpi itu semakin sering muncul.

Dan ternyata cewe itu adalah Maercy. Kini Maercy dan Vius berada dalam keadaan bimbang antara rasa cinta persahabatan atau jatuh cinta. Maercy cintanya bimbang di antara Adira sepupu Vius dengan Vius. Vius cintanya bimbang di antara Elda sahabat Maercy dengan Maercy. Sedangkan Sammy lebih memahami perasaan Vius dan mendukung Vius buat ngebulatin tekadnya pada Maercy.

Akhir semester 1pun berakhir. Maercy mendadak pindah ke Makasar karena keadaan ortunya sangat buruk di sana. Maercy terpaksa harus pergi ninggalin Bandung dan Vius. Di akhir cerita, Vius akhirnya ngungkapin perasaan cintanya dan mimpinya begitu juga dengan Maercy. Perpisahan mereka berdua yang seharusnya berat berubah menjadi moment berharga seumur hidup mereka berdua coz 'Now or Never'. Elda dan Adira merhatiin mereka berdua dari jauh dengan bangga dan terharu. Mereka sadar kalau cinta ngga harus memiliki. Ngeliat orang yang mereka cintai dari jauh bahagia pasti mereka juga bahagia. So, jawaban dari pertanyaan Maercy dan Vius- Am I Love Him? adalah Yes, I am.

Inspiration from: Self heart(hati sendiri)& Self imagination(imajinasi sendiri)
Lagu Jason Mraz - If It Kills Me

Design2 bajunya:
baju Maercy:


Sabtu, 15 Agustus 2009

Mata Setan 2_Kota Iblis[Story Inspiration-2]

Sinopsis:
Kota Asa adalah kota yang terkenal akan segala kebaikan kota tersebut. Terkenal karena penghargaan-penghargaan yang didapatkan kota itu. Penduduknya juga memenangkan kota tersebut sebagai kota teladan. Nyaris tidak ada tindak kejahatan di sana.

Tapi itu semua ngga bener...
They call this city is 'The City of All Kind Humans in Indonesia and The World'. Tapi menurut saya, kota ini ngga lebih dari kota iblis. Kejahatan meraja lela di kota ini tanpa sepengetahuan dan kesadaran para penduduknya. Kami semua dibantai satu persatu dengan keji oleh geng sadis yang berjumlah ngga lebih dari 28 orang. Geng yang pintar luar biasa membaur dan menjadikan orang-orang sebagai tameng buat nyembunyiin identitas mereka dan tindakan kotor mereka. Kami diduga gantung diri...padahal kami disiksa lalu digantung oleh mereka, kami diduga menembak diri kami sendiri...padahal mereka yang menembak kami, kami diponis terkena virus flu babi...padahal kami diculik dan disuntikkan virus itu. Kami ingin menegakkan keadilan dan menyadarkan para penduduk dan keluarga kami tentang geng keji itu gimanapun caranya. Entah kami merasuki para warga buat berontak, atau meminta untuk kembali lagi ke jasad kami...

Saras Gunardi menerobos peti matinya bersamaan dengan orang-orang yang dibantai geng keji itu. 7 orang yang bangkit malam itu. Mereka harus berjuang mewujudkan keinginan mereka. Mereka kini adalah mayat. Dan mayat tidak bisa meninggal kembali. Namun, mereka bertujuh masih terlalu rapuh. Geng itu terus memakan korban dan kini tinggal 1/4 kota yang masih selamat. Mata Setan2 Kota Iblis ini akan menceritakan tentang 3/4 isi kota yang sudah meninggal membalaskan dendam mereka dan menyelamatkan 1/4 isi kota yang masih selamat. Awalnya hanya bertujuh, tapi orang-orang yang sudah meninggal mendapatkan kembali haknya untuk melawan, menyelamatkan, dan menegakkan keadilan. Pada akhirnya, mereka semua kembali ke dunia sana dan 1/4 isi kota berhasil diselamatkan. Kini kota itu menjadi sejarah dan dijuluki 'Kota Iblis' karena di kota itu pernah terjadi peperangan antara iblis dengan iblis.

Inspiration from:The Crow(City of Angles)
The Crow

Sabtu, 08 Agustus 2009

Mata Setan [Story Ispiration-1]

Sinopsis:
Amethyst Yanti, mahasiswi UNPAR, 23 tahun, dikabarkan menghilang 2 hari sesudah kapal pesiar jurusan Malaysia-Jakarta tiba di pelabuhan. Tidak ada seorangpun yang tahu keberadaannya sekarang ini. Sebenarnya polisi bisa melacak keberadaannya. Tapi sayangnya saat kepolisian mengecek daftar para penumpang, tidak ditemukan nama Amethyst Yanti di sana. Tidak ada jejak yang mendukung keberadaannya. Maka dari itu, Amet dinyatakan telah meninggal.

Tapi semua berita itu adalah bohong...
Gue ditembak oleh orang sangat-sangat gue percaya. Gue nyesel menghiraukan kata-kata Ira sahabat gue. Sumpah! Kalo gue dapet kesempatan kedua dalem hidup gue, gue bakal hukum orang itu dan temen-temennya...

Amet mendapatkan kesempatan kedua itu. Ia kini hidup kembali untuk mencari orang-orang yang membunuhnya dan menghukum mereka semua. Kehidupannya diberikan oleh seekor elang misterius yang selalu memandunya ke tempat orang-orang yang membunuhnya.
Amet mengira kalau kesempatan keduanya itu dimaksudkan untuk balas dendam. Ternyata takdirnya memintanya untuk menghentikan orang-orang yang membunuhnya membunuh sahabat-sahabatnya. Ia begitu terpukul kehilangan sahabat-sahabatnya. Ia hampir bunuh diri, tapi ia sadar kalau kesempatan kedua ini hanya datang sekali seumur hidup. Sekarang tinggal tersisa 3 orang sahabatnya yang masih hidup. Ia berjuang mati-matian untuk menggagalkan pembunuhan itu.
Pada akhirnya, Amet meninggal. Ketika polisi mengotopsinya, mayat Amet sudah berumur 2 hari sejak hari kematiannya dan 2 buah peluru yang sudah berkarat selama 2 hari ditemukan di ulu hatinya. Polisi akhirnya menangkap orang-orang yang membunuhnya dan memenjarakannya. Kini Amet tenang di sana. Bersama sahabat-sahabatnya yang ada di sana juga.



Inspiration from: The Crow(City of Angles)
Catwoman

Para tokoh:









maaf belum semuanya kutampilkan!
tokoh-tokoh lainnya masih kubuat...
harap menunggu ya... ~(^_^)~